Kenali Karakter Pelek Jari-jari dan “Racing” buat Sepeda Motor

Jakarta, KompasOtomotif – Banyaknya sepeda motor yang beredar di jalan menggunakan pelek racing (cast wheel), bukan berarti kalau pelek jari-jari punah. Ini hanya masalah tren yang sedang merebak saat ini di dunia otomotif roda dua.

Sampai saat ini, kedua jenis pelek tersebut masih disematkan pada beberapa model motor. Walaupun memang lebih banyak dengan jenis pelek “racing” (dari pabrikan). Meski begitu, masih banyak di pasar aftermarket yang menyediakan pelek model jari-jari, jika ada yang ingin mengganti.

“Ini hanya masalah tren dan ‘taste’ si pengendara. Karena tidak ada perbedaan mendasar, antara pelek racing maupun jari-jari. Bedanya pada bahan pembuat dan tampilannya saja,” Endro Setiaji, mekanik Honda Jateng dari AHASS Kurnia Agung Kendal, kepada KompasOtomotif, Minggu (4/12/2016).

Karakter

Mekanik yang bakal mewakili Honda Indonesia di kontes mekanik Asia-Oceania di Vietnam itu juga menambahkan, kalau pelek racing lebih rigid (kaku), di mana itu akan lebih cocok untuk jalan berkarakter aspal atau sirkuit aspal. Sementara untuk pelek jari-jari, punya karakter lebih lentur.

“Dibanding dengan pelek racing yang punya sifat lebih kaku, pelek jari-jari akan pas bila digunakan untuk jalan sedikit bergelombang, berpasir, atau berkerikil, karena kelenturannya,” ujar Endro.

Perlu “balancing”

Terkait dengan perawatan, Endro melanjutkan, kalau semua jenis pelek, baik racing ataupun jari-jari, sudah seharusnya membutuh perawatan rutin. Di mana keduanya butuh pemeriksaan balancingbearing roda, ban, secara periodik.

Pemeriksaan pelek juga seharusnya segera dilakukan saat dirasa ada yang kurang ‘enak’ ketika sepeda motor dikendarai (terasa kemudi tidak stabil atau goyang karena faktor yang berasal dari roda).

“Dibading pelek racing, jari-jari sebenarnya lebih mudah terlihat, jika ada kerusakan, seperti jari-jari yang kendor atau patah, selain merasakan ketidakstabilan sepeda motor saat dikendarai. Intinya agar pelek tetap aman, hindari pemakaian motor yang terlalu ekstrem, seperti kerap menghajar lubang dengan keras dan melintasi polisi tidur dengan kecepatan tinggi,” tutur Endro.